Penerapan mekanisasi pertanian di lahan rawa bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, produktivitas lahan, mempercepat waktu pengolahan tahan dan panen, menurunkan kehilangan hasil dan menurunkan biaya produksi.

Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) di lahan rawa selain bersifat spesifik juga dibatasi oleh daya pakai. Daya pakai alsintan di lahan rawa umurnnya hanya 2-3 tahun.

Keragaman kondisi lahan, tata ruang, keterpencilan lokasi, ketersediaan suku cadang, dan agro-ekosistem yang spesifik menyebabkan alsintan yang cocok untuk dikembangkan di daerah pasang surut masih sangat terbatas

Sebagian alsintan, baik impor maupun produk dalam negeri belum banyak dimanfaatkan petani karena kurang sesuai dengan kondisi lahan pasang surut dan kebutuhan petani. Oleh karena itu, pemilihan alsintan yang tepat akan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pengembangan mekanisasi pertanian di lahan rawa.

Faktor keberhasilan dalam penerapan mekanisasi pertamiam di lahan rawa ditentukan oleh beberapa faktor yaitu;

1. Kekerasan tanah

2. Tekanan alsintan ke tanah

3. Kedalaman lumpur

4. Jenis alsintan

5. Dimensi dan luas lahan

6. Pola pengolahan tanah

7. Ketersediaan jalan usaha tani dan jembatan

    1. Kekerasan tanah (Ground bearing capacity)

Kekerasan tanah atau daya sangga tanah merupakan kemampuan tanah untuk menyangga roda alsintan pada saat alsintan bekerja. Kekerasan tanah diukur dengan soil penetrometer dalam besaran Cone Indek (CI). Kekerasan tanah tergantung pada kejenuhan tanah. Bila kadar air tanah meningkat, kekuatan tanah dalam menerima beban akan makin menurun.

    1. Tekanan alsintan ke tanah (Ground pressure)

Tekanan roda alsintan ke tanah atau juga disebut Ground Pressure (GP) merupakan berat alsintan dibagi luas tapak roda yang menyentuh tanah. Agar alsintan tidak tenggelam, maka tekanan alsintan ke tanah (GP) harus lebih kecil dari daya sangga tanah. Secara empiris hubungan antara CI dan GP dapat di dituangkan dalam rumus sebagai berikut:

Tabel 1. Hubungan anrata kekerasan tanah, Cone Index dan rekomendasi jenis roda alsintan

Kekerasan tanah

Cone Indek (kg/cm2)/ Indikator lapang

Berat traktor (kg)

Tekanan Roda ke tanah (kg/cm2)

Rekomendasi jenis roda alsintan

Tinggi

<= 1,5

Kaki terbenam sampai mata kaki

200-250

0,68

TR 2 dengan roda besi standard, TR4 dengan roda karet bersirip lebar

Baik/cukup

1-1,5

Kaki terbenam setengah lutut

100-200

0,45

TR 2 dengan roda besi standard bersirip lebar, TR2 dengan roda besi berdiameter >90 cm TR4 dengan kombinasi roda karet dan roda apung

Sedang

0,5-1

Kaki terbenam sampai lutut

<100

0,23

TR 2 dengan roda ganda, Crawler dengan krepyak karet lebar, Traktor perahu dan kura-kura

Rendah

<=0,5

Kaki terbenam lebih dalam diatas lutut

Tidak direkomendasi diolah dengan alsintan

Alat manual

Tajak, cangkul,sabit dan alat manual lainnya

Gambar TR 2 dengan roda besi standard direkomendasikan untuk lahan dengan kekerasan tanah tinggi

Gambar TR 2 dengan roda besi berdiameter besar dengan sirip lebar untuk lahan dengan kekerasan tanah baik./cukup

Gambar TR 2 dengan roda besi ganda untuk lahan kekerasan tanah dengan kekerasan sedang

Traktor crawler krepyak karet untuk lahan dengan kekerasan tanah sedang

    1. Kedalaman lumpur

Kedalaman lumpur dan air dalam petakan sawah sangat mempengaruhi operasi alat dan mesin pertanian khususnya tractor dan combine harvester. Oleh karena itu, direkomendasikan agar saat tractor ber operasi, air harus di drainase sampai dalam kondisi macak-macak.

Lumpur yang terlalu dalam dan airnya tidak dapat di drainasi akan menyebabkan tractor tenggelam sehingga tidak direkomendasikan sebagai lahan budidayaa.

Cara lain untuk pengolahan tanah pada lahan berlumpur atau kedalaman air dangkal sampai sedang adalah dengan menggunakan tractor perahu atau tractor Kura-Kiura. Implemen yang digunakan adalah rotary atau roda sirip itu sendiri untuk mengaduk tanah. Traktor perahu atau kura2 tidak dapat digunakan untuk membajak sawah dengan bajak singkal maupun bajak piringan.

Bila kondisi lahan tidak berair atau tergenang dan mempunyai daya sanggah tanah relatif besar (CI > 1,5 kg/crn2), mesin panen dapat diterapkan dengan baik, tetapi bila daya sanggah tanah seperti lahan rawa yang relative kecil (CI < 1,5 kg/cm2), maka mesin panen tidak dapat bekerja dengan baik.

Gambar Traktor perahu untuk mengolah tahan berlumpur sedang dengan cara di glebeg dibelakan tractor

Gambar Traktor kura-kura untuk mengolah tanah berlumpur sedang dengan cara di glebeg, yang diletakkan dibelakan tractor

    1. Jenis Alsintan

Alsin pengolahan tanah di lahan pasang surut dibedakan menjadi dua macam, yaitu alsin untuk pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua.

  1. Alsin pengolahan tanah pertama (primary tillage equipment), biasanya berupa bajak (Plow),
  2. Alsin pengolahan tanah kedua (secondary tillage equipment), biasanya berupa garu (harrow), gelebeg atau rotari (pisau berputar)

Peralatan pengolahan tanah

Peralatan pengolahan tanah pertama

Peralatan pengolahan tanah kedua

Bajak singkal

Bajak piringan

Bajak lapisan bawah tanah

Garu piringan

Garu sisir

Gelebeg

Rotari

Gambar Kelompok dari peralatan pengolahan tanah

Pada lahan dengan lapisan pirit yang dalam > 50 cm dengan daya sangga tanah yang keras, dianjurkan untuk melakukan pengolahan tanah pertama (bajak singkal atau piringan) 1 kali setahun dilanjutkan dengan pengolahan tanah kedua. Sedangkan pada lahan dengan daya sangga tanah sedang sampai cukup dan lapisan pirit yang tipis +/- 25 cm, maka disarankan pengolahan tanah menggunakan alsintan untuk pengolahan tanah kedua (rotary, glebeg, garu)

    1. Dimensi dan luas lahan

Idealnya, petakan sawah untuk budidaya padi berbentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan ukuran antara 100X 100 m atau 50x100 m. Pada umumnya, satu blok tersier luas lahan usahatani 10 ha untuk pernilikan 5 keluarga dengan ukuran 200 x 500m dan setiap petani menerima lahan usaha seluas 2 ha setiap blok tersier. Petakan yang terlalu luas akan mempersulit didalam perataan tanah.

  1. Pola pengolahan tanah

Ada dua cara pola operasi pengolahan tanah yang disarankan yaitu (a). pola pengolahan tanah keliling tepi dan (b). pola pengolahan tanah tengah. Pola pengolahan tanahnya adalah pola keliling tepi (Gambar 8-a). Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kanan sampai ke tepi lahan (Gambar 8- b). Pola ini cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan.Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir.

(a) Pola pengolahan tanah keliling tepi                                                 (b). Pola pengolahan tanah tengah.

Gambar Pola pengolahan tanah yang dapat di terapkan di lahan rawa

Untuk mengolah tanah di lahan rawa pasang surut dan lebak perlu memperhatikan keberadaan lapisan pirit yang ada di bawah lapisan olah, apakah kedalaman lapisan pirit > 50 cm atau hanya pada batas lapisan olah yang mudah terekspose. Pada lapisan pirit >= 50 cm dengan kekerasan tanah diatas Mata bajak perlu disetel kedalamannya agar tidak dapat masuk sampai mengangkat lapisan pirit karena pirit akan meracuni tanaman bahkan bisa mematikan tanaman. Pada lahan sawah dengan laposan pirit <=25 cm, disarankan untuk dilakukan pengolahan tanah sekunder dengan garu maupun glebeg kemudian dilakukan perataan

  1. Ketersediaan jalan usaha tani dan jembatan

Faktor lain yang membatasi penggunaan traktor adalah sarana dan prasarana transportasi, ketersediaan air, dan kedalaman pirit. Lahan dengan tipologi sulfat mas am yang mempunyai lapisan pirit dangkal kurang dari 25 cm dan lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 25 em tidak disarankan diolah menggunakan traktor (Ananto et al., 1998). Untuk kelanearan pengoperasian traktor harus tersedia jalan usahatani yang cukup lebar sekitar 3,5--4,0 m serta dapat dilalui oleh traktor dengan aman. Adanya keterbatasan operasional traktor terkait dengan jalan usahatani adalah ketiadaan jembatan yang menghubungkan antar blok lahan yang terpisahkan oleh saluran sekunder dan tersier. Dalam transportasi dari suatu tempat ke tempat lain (antar blok) banyak waktu terbuang hanya untuk mencari jalan menuju lahan yang akan dikerjakan.