Penyakit Utama di Lahan Rawa
1. Penyakit Blas
Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyriculariagrisea. Penyakit blas dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Serangan penyaki pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi disebut blas daun (leaf blast), sedangkan pada fase generatif menginfeksi leher malai atau blas leher (neck blast).
Gejala serangan penyakit blas daun (leaf blast)
- pada daun terdapat becak coklat berbentuk belah ketupat dan memanjang searah dengan urat daun dengan ujung runcing
- Pinggir becak berwarna coklat dengan bagian tengah berwarna putih keabuan
- Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Bercak-bercak terutama terlihat pada stadium pertumbuhan vegetatif. Bercak-bercak dapat bergabung menjadi satu, sehingga secara keseluruhan tampak tanaman seperti terbakar
Gejala serangan penyakit blas leher (neck blast)
- Serangan terjadi pada tanaman yang telah keluar malainya.
- busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot)
- buku-buku yang terserang berwarna cokelat kehitaman dan busuk
Pengendalian penyakit blas
|
Gejala serangan blas daun (leaf blast) |
Gejala serangan blas leher (neck blast) |
- Penggunaan varietas tahan blas
Usaha pengendalian penyakit blas yang sampai saat ini dianggap paling efektif, murah, dan ramah lingkungan adalah dengan penggunaan varietas padi yang tahan seperti Inpari 34 Salin Agritan, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, dan lain-lain. Pergiliran varietas dengan varietas unggul lokal yang umumnya tahan terhadap penyakit blas sangat dianjurkan. - Penanaman benih sehat
Penyakit blas merupakan penyakit yang terbawa benih (seed borne pathogen), maka untuk mencegah penyakit blas dianjurkan tidak menggunakan benih yang berasal dari daerah endemis penyakit blas. Pertanaman yang terinfeksi penyakit blas sangat tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai benih. - Penggunaan Fungisida
Hampir 30–40 % penyakit blas pada padi ditularkan melalui benih, sehingga pada stadium awal vegetatif tanaman padi dapat terserang blas. Perlu dilakukan perlakuan/pengobatan benih dengan fungisida sistemik yang mengandung bahan aktif propikonazol, triziklzoel, isoprotionalane, benomyl mancozeb, kasugamycin, dan thiophanate methyl dengan dosis formulasi 3-5 g/kilogram benih. Pengobatan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih (soaking) atau pelapisan benih (coating) dengan fungisida anjuran.
-
- Perendaman benih (soaking): benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam, dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam. Perbandingan berat biji dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 l air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan. Perendaman benih padi sawah dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman.
- Pelapisan (coating): benih direndam dalam air selama beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, kemudian gabah dikering anginkan dengan cara yang sama dengan metode perendaman, selanjutnya benih siap disemaikan.
- Cara tanam
Pertanaman yang rapat akan mempermudah terjadinya infeksi dan penularan dari satu tanaman ke tanaman yang lain Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit blas. - Pemupukan
Hindari penggunaan pemupukan nitrogen dengan dosis tinggi karena akan menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Namun pupuk kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu, disarankan menggunakan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang. - Sanitasi Lingkungan
Sanitasi dengan menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan mengingat patogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman. - Waktu tanam
Pengaturan waktu tanam bertujuan untuk menghindari stadia heading pada saat banyak hujan dan embun. Untuk ini diperlukan data penunjang iklim dan umur tanaman sebagai dasar penentuan waktu tanam tanam yang tepat.
2. Penyakit bercak daun coklat (Helminthosporium oryzae)
Penyakit bercak daun coklat merupakan salah satu penyakit utama padi di lahan rawa. Penyakit banyak timbul di pertanaman dengan kondisi lahan yang kurang baik seperti lahan bukaan baru, lahan yang miskin hara, lahan yang bertanah gambut atau sulfat masam dengan kondisi tata air atau sistem drainase yang tidak baik yang belum memadai, serta pertanaman musim kemarau yang mengalami kekurangan air. Penyakit bercak coklat dapat menimbulkan kerugian hasil 50 sampai 90 persen.
Gejala penyakit bercak daun coklat
- Terdapat bercak daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih.
Gejala serangan bercak daun coklat
- Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai panjang 1 cm.
- Pada serangan berat, jamur dapat menginfeksi gabah dengan gejala bercak berwarna hitam atau coklat gelap pada gabah.
Pengendalian penyakit bercak daun coklat
- Pengguna varietas tahan: Inpara 2, Inpara 8
- Memperbaiki kesuburan tanah
- Penggunaan benih yang sehat
- Perlakuan fungisida atau air panas pada benih
- Pupuk yang seimbang terutama kalium yang cukup
- Sanitasi lingkungan pertanaman
- Pengolahan tanah yang cukup, pengairan dan drainase yang baik sehingga akar tumbuh dengan baik
3. Hawar pelepah padi (Rhizoctonia solani)
Penyakit hawar pelepah mulai terlihat berkembang di sawah pada saat tanaman padi stadium anakan maksimum dan terus berkembang sampai menjelang panen, namun kadang tanaman padi di pembibitan dapat terinfeksi parah. Kehilangan hasil padi akibat penyakit hawar pelepah dapat mencapai 30%.
Gejala penyakit hawar pelepah padi
- Gejala penyakit timbul saat tanaman memasuki fase anakan maksimum pada bagian pelepah dekat permukaan air
- Di bagian pelepah bawah terdapat bercak-bercak besar berbentuk oval berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih pucat dengan bagian tepi tidak teratur yang selanjutnya menjalar ke pelepah daun bagian atasnya.
Pengendalian hawar pelepah daun
- Tidak ada varietas padi yang tahan penyakit hawar pelepah daun
- Penggunaan kompos jerami dengan dosis 2 ton/ha berasal dari serasah gulma
- Penggunaan jamur antagonis (Trichoderma sp) dosis 25 kg/ha
- Jarak tanam diupayakan tidak terlalu rapat
- Penggunaan pupuk berimbang: pupuk nitrogen, fosfat dan kalium secara berimbang, dan air di petakan sawah diatur supaya dapat berganti dengan yang baru.
Gejala serangan hawar pelepah daun
- Penggunaan fungisida berbahan aktif benomyl, difenoconazol, mankozeb, dan validamycin dengan dosis 2cc atau 2g per satu liter air
- Pembersihan lingkungan sawah dari gulma yang menjadi inang alternatif bagi patogen unuk mengurangi sumber inokulum awal penyakit.
4. Penyakit hawar daun bakteri
Penyebab penyakit hawar daun adalah bakteri Xanthomonas oryzae yang penyebarannya melalui air, angin dan benih dan infeksi terjadi melalui stomata. Perkembangan sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah (20–22ºC). Fase rentan tanaman terkena penyakit adalah pada fase bibit umur 30–65 hst.
Pada stadia bibit, gejala penyakit disebut kresek, sedangkan pada stadia tanaman yang lebih lanjut, gejala disebut hawar (blight). Faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan penyakit di lapang: kelembaban tinggi, hujan angin, dan pemupukan N yang berlebihan. Kerugian hasil yang disebabkan oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 60%.
Gejala penyakit hawar daun
- Bercak kuning sampai putih dari ujung ke tepi daun
- Gejala pada umur kurang dari 30 hst (kresek),
- Gejala stadia anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight).
- Gejala pada persemaian tidak mudah diamati.
Pengendalian penyakit hawar daun
- Penggunaan varietas tahan: Inpara 2 (strain III), Inpara 4 (strain IV & VIII), Inpara 5 (strain IV & VIII)
- Melakukan pergiliran varietas tahan hawar daun
- Menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan
- Menghindari pemupukan nitrogen (N) yang berlebihan,
- Penggunaan jarak tanam yang tidak terlalu rapat.
5. Penyakit tungro
Penyakit tungro disebabkan oleh dua jenis virus yaitu rice tungro spherical virus (RTSV) dan rice tungro bacilliform virus (RTBV) yang ditularkan oleh wereng hijau (Nephotettix virescens). Wereng hijau ini sudah populer sebagai hama pengganggu tanaman padi.
Serangan yang terjadi pada saat tanaman masih muda, sekitar umur 10–20 hari, akan menyebabkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan saat tanaman berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10–20%.
Gejala penyakit tungro
Gejala serangan penyakit tungro
- Perubahan warna pada daun muda tanaman padi yang menguning hingga berwarna jingga.
- Hamparan tanaman padi jadi terlihat berwarna kuning dan tinggi tanaman tidak merata, terlihat spot-spot tanaman kerdil.
- Tanaman padi menjadi kerdil karena jarak antar buku atau ruas memendek.
- Daun-daun tersebut juga terlihat melintir.
- Jumlah tanaman padi muda atau anakan menjadi berkurang drastis karena lebih rentan terserang virus tungro.
Pengendalian penyakit tungro
- Membersihkan sumber inokulum tungro seperti singgang, bibit yang tumbuh dari ceceran gabah, rumput teki dan lain-lain sebelum membuat pesemaian
- Penggunaan varietas tahan wereng hijau atau tahan tungro (Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9, Inpari 36, 37)
- Mengatur waktu tanam padi. Saat puncak kepadatan populasi wereng hijau, tanaman padi sudah berumur lebih dari 45 hari setelah tanam, umur tanaman padi yang tidak rentan terhadap penyakit tungro.
- Penggunan cara tanam jajar legowo 2 baris atau 4 baris
- Aplikasi insektisida fungsi ganda yaitu insektisida yang dapat mematikan wereng hijau untuk menghambat penularan virus.
- Sawah jangan dikeringkan, usahakan paling tidak dalam kondisi air macak-macak karena sawah kering merangsang pemencaran wereng hijau yang dapat memperluas penularan
- Pemberian pupuk K yang lebih tinggi atau abu sekam