1. Hama ulat grayak (Spodoptera spp)

  • Hama menyerang saat di persemaian maupun di pertanaman.
  • Ulat grayak menyerang padi pada malam hari dan siang harinya bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi.
  • Ulat yang kecil makan daun-daun padi yang berumur muda, yang untuk pertama kali dengan menggigit permukaan daun.
  • Ulat-ulat tumbuh besar menghancurkan seluruh tanaman dalam waktu yang relatif singkat, sebelum berpindah ke lingkungan sekitar.
  • Faktor-faktor paling berpengaruh adalah keadaan perairan petakan yang kering, keadaan lingkungan yang kompleks, terutama curah hujan yang tinggi.
  • Vegetasi yang menjadi inang perantara adalah jenis rumput-rumputan.

Gambar Serangan ulat grayak pada persemaian

Pengendalian ulat grayak

  • Monitoring atau pemantauan seminggu sekali sehingga terdeteksi secara cepat dan mudah mengendalikannya.
  • Ulat yang masih kecil (instar I sampai III) lebih mudah mati dengan insektisida yang murah-murah karena kulitnya masih tipis sehingga bisa dibunuh melalui racun kontak, seperti bahan aktif fipronil, betasiflutrin, deltametrin, lamdasihalotrin, alfasipermetrin dll.
  • Apabila serangan masih rendah, bisa dilakukan tindakan pengendalian secara mekanik dengan mengambil ulat maupun kepompong ulat tersebut.
  • Cara perendaman dengan mengairi sawah agar ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah terendam dan akhirnya mati.
  • Setelah siang dilakukan perendaman, maka malamnya dilakukan pemantauan. Biasanya ulat grayak akan keluar, dan segera dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang bekerja sebagai racun perut yang kuat atau insektisida biologis yang lebih ramah lingkungan (Bacillus thuringiensis)

2. Hama penggerek batang (Scirpophaga innotata)

Hama ini menyerang tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan mulai dari fase vegetatif sampai generatif. Gejala yang ditimbulkan dari serangan hama penggerek batang secara umum ada 2 jenis, yaitu sundep dan beluk.

Gejala sundep

  • Serangan pada stadium vegetatif menyebabkan kematian anakan muda
  • Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif dapat dikompensasi dengan pembentukan anakan baru. Tanaman masih sanggup mengompensasi akibat kerusakan oleh penggerek batang padi sampai 30%.
  • Serangan dimulai dengan larva ngengat merusak tanaman padi sebelum memasuki fase vegetatif (masa pembungaan) dan gejalanya mulai terlihat ketika tanaman padi berumur 21 hari setelah pindah tanam.
  • Selanjutnya setelah 1 minggu, larva ngengat akan bertelur dan meletakkannya pada batang tanaman padi, dan selang 4-5 hari telur akan menetas sekaligus merusak sistem pembuluh tanaman yang terdapat pada batang padi.
  • Dampak visual, yaitu pucuk batang padi menjadi kering kekuningan serta mudah dicabut.

Gejala beluk

  • Serangan pada stadium generatif menyebabkan malai tampak putih dan hampa.
  • Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1,2%.
  • Serangan terjadi pada fase generatif (masa pembentukkan malai).
  • Dampak serangan menyebabkan bulir padi menjadi hampa akibat proses pengisian bijinya tidak berjalan sempurna karena kerusakan pada pembuluh batang padi

 

Imago dan gejala serangan penggerek batang pada malai

Pengendalian hama penggerek batang

  • penanaman secara serentak dalam areal penanaman yang luas agar tanaman padi berada pada fase yang sama sehingga perkembangan serta penyebaran sumber hama di lapangan dapat ditekan.
  • Cara mekanik dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan pertanaman.
  • Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).
  • Pemanfaatan musuh alami baik parasitoid, predator, maupun patogen.
  • Konservasi musuh alami dengan cara menghindari aplikasi insektisida berspektrum luas.
  • Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.
  • Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.
  • Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granul/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).
  • Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran. Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.
  • Tindakan preventif dengan memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.

3. Hama Putih Palsu/Pelipat Daun (Cnaphalocrocis medinalis) 

  • Hama putih palsu ditandai dengan gejala daun terlipat akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh larva hama putih palsu. Kerusakan pada daun di fase vegetatif dan fase generatif melampaui ambang batas lebih besar dari 50%.
  • Serangan HPP pada fase vegetatif lebih berpotensi merugikan dibandingkan dengan fase generatif.
  • Tanda pertama adanya hama putih palsu adalah adanya ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki tiga buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan dan pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga.
  • Kerusakan yang terjadi ditandai dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Ulat memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih.

Pengendalian

  1. Pembersihan lahan dan pemupukan berimbang. Hindari penggunaan pupuk urea yang berlebih.
  2. Menjaga populasi musuh alami untuk menekan berkembangnya populasi hama putih palsu.
  3. Pemasangan lampu perangkap untuk menarik ngengat supaya tidak bertelur.
  4. Pengamatan lahan, jika ditemukan gejala serangan mencari larva dan mematikannya
  5. Jika serangan pada daun bendera lebih dari 50% populasi tanaman, aplikasi insektisida berbahan aktif karbofuran, fipronil, emamektin benzoate, flubendoamide, atau lainnya.

4. Hama Tikus (Rattus argentiventer)

Tikus merupakan hama utama tanaman padi yang dapat menurunkan hasil produksi cukup tinggi.

  • Tikus sawah tinggal di pesawahan dan sekitarnya, mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat.
  • Satu pasang ekor tikus mampu berkembang biak menjadi 80 ekor per musim tanam.
  • Kerusakan dan penurunan hasil produksi padi sangat besar akibat dari serangan hama tikus dan susah untuk dikendalikan.

Gambar Gejala serangan hama tikus

  • Tikus dapat merusak secara langsung yaitu mencari makan pada saat tanaman sudah mulai berbuah sedangkan secara tidak langsung yaitu tikus merusak batang tanaman padi hanya untuk mengasah gigi depannya.
  • Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus dapat dilihat pada batang padi yang terpotong.

Pengendalian hama tikus

  1. Sanitasi lingkungan dengan pembersihan gulma
  2. Pengaturan pola tanam, waktu tanam & panen
  3. Fisik-mekanis: gropyokan massal, rutin, dan berkelanjutan; penggunaan perangkap; jerat; berburu tikus dengan bantuan anjing, senapan angin dan lain-lain; penggunaan alat penyembur api; penggenangan lubang dengan air, lumpur dan lain-lain.
  4. Biologi/hayati: konservasi predator, pemanfaatan patogen spesifik
  5. Kimiawi: fumigasi/pengemposan, umpan beracun, penggunaan zat penolak dan penarik, penggunaan senyawa pemandul
  6. Penggunaan pagar plastik dan perangkap bubu (trap barrier system {TBS})
  • Periksa TBS setiap pagi. Tikus tertangkap ditenggelamkan dalam air ± 10 menit
  • bersama bubu perangkapnya.
  • Lepaskan kembali hewan bukan sasaran (katak, kadal, ular, ikan, burung, dan
  • lain-lain) yang ikut tertangkap.
  • Segera cuci bubu perangkap jika ditemukan tikus/hewan lain mati di dalamnya,
  • Agar tikus yang datang berikutnya tetap mau masuk perangkap.
  • Periksa pagar plastik, apabila berlubang segera diperbaiki.
  • Pastikan parit terisi air sehingga bagian bawah pagar plastik selalu terendam.
  • Bersihkan gulma di parit, karena tikus mampu memanjatnya untuk jalan masuk ke dalam petak TBS.

Di daerah endemik tikus, penerapan TBS dan tanaman perangkap dilakukan 3 minggu lebih awal untuk monitoring dan pengendalian. TBS berukuran 25 m x 25 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 8-10 ha di sekelilingnya.

LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk berselang-seling arah. LTBS dipasang di perbatasan daerah tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan LTBS dipindahkan setelah tidak ada tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya dipasang selama 3 malam berturut-turut.

Gambar Gropyokan dengan ratel (fumigan bersumbu)

Gambar Pemasangan pagar plastik dilengkapi perangkap tikus (TBS)

 

5. Hama Burung

Hama burung mampu meningkatkan risiko penurunan hasil panen. Hal ini dikarenakan burung dapat memakan padi dengan jumlah rata-rata 5 gram setiap harinya. Apabila dibiarkan, produksi padi dapat mengalami penurunan hingga mencapai 30-50%. Hal ini yang membuat burung menjadi musuh bagi para petani.

Pengendalian hama burung

  1. Menggunakan bahan-bahan beraroma menyengat, seperti terasi, kapur barus, dan jengkol. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam plastik yang sudah diberi lubang kemudian diikatkan pada jaring.
  2. Menggunakan tanaman pengalih perhatian/penghalau, yaitu tanaman dengan bunga yang berwarna mencolok, seperti bunga matahari.
  3. Memasang benda yang mengkilap seperti plastik berwarna silver dan kaset CD bekas. Penglihatan burung akan kacau karena terkena pantulan sinar yang dihasilkan benda tersebut
  4. Memasang jaring perangkap yang dipasangkan dengan cara dibentangkan di atas tanaman padi.
  5. Membuat bunyi dari kaleng-kaleng
  6. Memasang bentangan tali
  7. Memasang generator ultrasonik pengusir burung

Gambar Pemasangan jaring dan generator ultrasonik